PKS NEWS UPDATE:
« »

Senin, 19 Desember 2011

Konsolidasi Kader Menteng

Konsolidasi kader PKS Menteng terus dilakukan demi menjemput agenda politik yang sudah ada di depan mata. Pilkada DKI Jakarta yang tinggal delapan bulan lagi, mau tak mau memaksa partai ini mengerahkan seluruh sumber dayanya untuk merebut kemenangan. Termasuk kader-kader PKS Menteng.  Sebagai salah satu dari 8 kecamatan yang ada di Jakarta Pusat, Menteng merupakan wilayah yang strategis. Namun “sirkulasi” kader yang cepat di Menteng ini, harus diakui perlu penanganan khusus demi mencapai target-target pemenangan politik.
Sebagai Pembina Wilayah, Nurmansjah Lubis yang juga anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta, bersama kader-kader PKS Menteng, mulai aktivitas curah pendapat untuk merumuskan kegiatan yang efektif di Menteng guna mencapai kemenangan. Nurmansjah sendiri mengakui, tipikal kader di Menteng itu cukup unik dan juga beragam. Namun dirinya tetap komitmen untuk tetap bersama dengan kader-kader PKS Menteng dalam merajut aktivitas kemasyarakatan guna menjemput kemenangan politik PKS.

Kesejahteraan Keluarga, Harapan Tertinggi Kaum Ibu

Jakarta (18/12) – Bidang Perempuan Dewan Pengurus Daerah Partai Keadilan Sejahtera (PKS DPD) Jakarta Pusat menggelar hajatan besarnya dalam rangka Hari Ibu, 22 Desember,  di Gedung Kesenian Miss Tjitjih, Jakarta Pusat.  Rangkaian acara Festival Keluarga Indonesia (FKI) sangat meriah dengan aktivitas Rumah Tangga dan Keluarga, salah satunya dipamerkan melalui aneka stand kreatif yang ada di pintu masuk gedung.

Acara ini dibuka dengan sambutan hangat dari Ketua Panitia, Sandra Ayu Ika Sari yang dilanjutkan oleh Ketua DPD PKS Jakarta Pusat, Ir. Muhammad Agus Setiawan. Kegiatan  ini pun disambut baik oleh anggota DPR RI Fraksi PKS, Dr. Shahibul Iman, yang turut menyampaikan beberapa patah kata. Sandra menyampaikan, rangkaian kegiatan ini bagian dari Program Festival Keluarga Indonesia 2011 Bidang Perempuan DPD PKS yang selanjutnya akan dipusatkan di Kota Tua, Ahad (24/12). “Dengan tema yang kami usung  ‘Sebuah Persembahan untuk Bunda’, semoga ini memberi inspirasi untuk Ibu Indonesia, terutama di Jakarta Pusat,” ujarnya.

Acara hari ini juga dihadiri oleh Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Ir Triwisaksana, Msc. Dalam sambutannya, dirinya menegaskan, “Tidak ada hari Bapak, yang ada hanyalah Hari Ibu. Kaum ibu biasanya punya aspirasi yang berbeda untuk kesejahteraan keluarga”. Calon Kepala Daerah Ibu  Kota Jakarta yang digadang PKS ini menekankan dua hal yang merupakan harapan dan kebahagiaan kaum ibu, yaitu mengenai harga sembako yang terjangkau dan sekolah dengan biaya yang murah, bahkan gratis. Kaum ibu tidak hanya memikirkan persoalan kepentingan pribadinya, tetapi lebih pada kepentingan keluarga dan orang banyak,” tandasnya. Statement indah sebagai closing dari Bang Sani, sapaan akrabnya, “Ibu shalihah, keluarga sakinah, Jakarta Indonesia berkah. Ibu cerdas , keluarga tangkas, Jakarta berkualitas. Ibu penyayang,  keluarga tenang, Jakarta senang.”

Acara dilanjutkan dengan peresmian Rumah Keluarga Indonesia (RKI) Jakarta Pusat  yang dilakukan oleh Ibu Eva juga didampingi Ustadz  Ahmad Zairofi dan Sandra Ayu. Sebagai tanda peresmian RKI, Bang Sani “Abang Kita” tak luput pula melakukan pemukulan gong sebanyak delapan kali berdasarkan PKS nomor urut 8.  Kegiatan yang sarat dengan nilai-nilai luhur keluarga ini akhirnya ditutup dengan penampilan drama musikal anak kader sebagai pengiri pemberian penghargaan Inspiring Woman 2011  kepada beberapa Ibu dengan prestasi yang sangat menginspirasi.

Minggu, 18 Desember 2011

Doa Rabithah: Doa di Sepanjang Mihwar Dakwah

Oleh : Cahyadi Takariawan
Siang tadi (Sabtu 3 Desember 2011), saya mengikuti acara Tatsqif Kader Dakwah di Markaz Dakwah Gambiran, Yogyakarta. Ustadz Tulus Musthafa menyampaikan tausiyah yang sangat mengena. Penjagaan terhadap kader pada era dakwah di ranah publik harus semakin dikuatkan. Sarananya, kata beliau, telah terangkum dalam Doa Rabithah yang rutin kita baca setiap pagi dan petang.

Sembari mengikuti tausiyah beliau, ingatan saya menerawang jauh ke belakang.....

Suatu masa, di era 1980-an.....

Tigapuluh tahun yang lalu, beberapa orang aktivis dakwah, tidak banyak, hanya beberapa orang saja, duduk melingkar dalam sebuah majelis. Di ruangan yang sempit, diterangi lampu temaram, duduk bersila di atas tikar tua, khusyu’, khidmat, tawadhu’.

Tidak banyak, hanya beberapa orang saja. Berbincang membelah kesunyian, pelan-pelan, tidak berisik. Semua datang dengan berjalan kaki, naik sepeda tua, atau naik kendaraan umum saja. Pakaian mereka sangat sederhana, apa adanya, bersahaja. Hati mereka sangat mulia.

Duapuluh tahun yang lalu, beberapa orang itu bercita-cita tentang kejayaan sebuah peradaban. Cita-cita besar, mengubah keadaan, menciptakan peradaban mulia. Wajah mereka tampak teduh, air wudhu telah membersihkan jiwa dan dada mereka. Tidak ada yang berbicara tentang fasilitas, materi, jabatan dan kekuasaan.

Mengakhiri majelis, mereka menundukkan wajah. Tunduk dalam kekhusyukan, larut dalam kehangatan persaudaraan, hanyut dalam samudera kecintaah. Doa Rabithah mereka lantunkan. Syahdu, menusuk kalbu.

Air mata berlinang, bercucuran. Akankah segelintir orang ini akan bisa mengubah keadaan ? Akan beberapa orang ini akan mampu menciptakan perubahan ? Hanya Allah yang mengetahui jawaban semua pertanyaan. Doa telah dimunajatkan, dari hati yang paling dalam :

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa dalam ketaatan kepada-Mu, telah bersatu dalam dakwah kepada-Mu, telah berpadu dalam membela syari’at-Mu”.

“Maka kokohkanlah ya Allah, ikatannya, kekalkanlah kasih sayangnya, tunjukilah jalan-jalannya, penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar”.

“Lapangkanlah dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan tawakkal kepada-Mu. Nyalakan hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu, matikanlah kami dalam syahid di jalan-Mu”.

“Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Amin”.


Sejuk, menyusup sampai ke tulang, mengalir dalam darah. Meresap hingga ke sumsum dan seluruh sendi-sendi tubuh. Merekapun berdiri, berangkulan, bersalaman dengan erat. Masing-masing meninggalkan ruangan. Satu per satu. Hening, tenang. Tidak ada kegaduhan dan kebisingan.

Masa bergerak, ke era 1990-an

Sekumpulan aktivis dakwah, cukup banyak jumlahnya, berkumpul dalam sebuah ruangan yang cukup luas. Ruang itu milik sebuah Yayasan, yang disewa untuk kantor dan tempat beraktivitas. Mampu menampung hingga seratus orang. Semua duduk lesehan, di atas karpet. Lampu cukup terang untuk memberikan kecerahan ruang.

Sebuah Daurah Tarqiyah dilakukan. Para muwajih silih berganti datang memberikan arahan. Taujih para masyayikh di seputar urgensi bersosialisasi ke tengah kehidupan masyarakat, berinteraksi dengan tokoh-tokoh publik, memperluas jaringan kemasyarakatan dengan pendekatan personal dan kelembagaan. Semua aktivis diarahkan untuk membuka diri dan berkiprah secara luas di tengah masyarakat. Membangun jaringan sosial dan membentuk ketokohan sosial.

Sekumpulan aktivis dakwah, jumlahnya cukup banyak, datang dengan mengendarai sepeda motor, beberapa tampak mengendarai mobil Carry dan Kijang tua. Wajah mereka bersih, bersinar. Penampilan mereka tampak intelek, namun bersahaja. Sebagian berbaju batik, sebagian lainnya berpenampilan rapi dengan setelan kemeja dan celana yang serasi.

Acara berlangsung khidmat dan sederhana. Namun sangat sarat muatan makna. Sebuah keyakinan semakin terhujamkan dalam jiwa, bahwa kemenangan dekat waktunya. Kader dakwah terus bertambah, aktivitas dakwah semakin melimpah ruah. Semua optimis dengan perkembangan dakwah.

Usai acara ditutup dengan doa. Hati mereka khusyu’, jiwa mereka tawadhu’. Sekumpulan aktivis dakwah, cukup banyak jumlah mereka, menengadahkan tangan, sepenuh harapan dan keyakinan. Munajat sepenuh kesadaran :

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa dalam ketaatan kepada-Mu, telah bersatu dalam dakwah kepada-Mu, telah berpadu dalam membela syari’at-Mu”.

“Maka kokohkanlah ya Allah, ikatannya, kekalkanlah kasih sayangnya, tunjukilah jalan-jalannya, penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar”.

“Lapangkanlah dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan tawakkal kepada-Mu. Nyalakan hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu, matikanlah kami dalam syahid di jalan-Mu”.

“Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Amin”.
Mereka berdiri, berangkulan, bersalaman dengan erat dan hangat. Hati mereka tulus, bekerja di jalan kebenaran, pasti Allah akan memberikan jalan kemudahan. Doa Rabithah mengikat hati-hati mereka, semakin kuat, semakin erat.

Perlahan mereka meninggalkan ruangan, menuju tempat beraktivitas masing-masing. Khidmat, hening, namun tetap terpancar wajah yang cerah dan harapan yang terang benderang.

Masa terus mengalir, sampai ke era 2000-an....

Para aktivis dakwah berkumpul, jumlah mereka cukup banyak. Memenuhi ruangan ber-AC, sebuah gedung pertemuan yang disewa untuk kegiatan. Diterangi lampu terang benderang, dengan sound system yang memadai, dan tata ruang yang tampak formal namun indah. Tampak bendera berkibar dimana-mana, dan sejumlah spanduk ucapan selamat datang kepada peserta dipasang indah di berbagai ruas jalan hingga memasuki ruangan.

Sebuah kegiatan koordinasi digelar untuk mempersiapkan perhelatan politik tingkat nasional. Para aktivis datang dengan sepeda motor dan mobil-mobil yang tampak memadati tempat parkir. Mereka hadir dengan mengenakan kostum yang seragam, bertuliskan kalimat dan bergambarkan lambang partai. Di depan ruang, tampak beberapa aktivis berseragam khas, menjaga keamanan acara.

Para aktivis dakwah berkumpul, jumlah mereka cukup banyak. Mereka duduk berkursi, tampak rapi. Pakaian mereka formal dan bersih, sebagian tampak mengenakan jas dan dasi, bersepatu hitam mengkilap. Sebagian datang dengan protokoler, karena konsekuensi sebagai pejabat publik. Ada pengawal, ada ajudan, ada sopir, dan mobil dinas.

Para qiyadah hadir memberikan arahan dan taklimat, sesekali waktu disambut gegap gempita pekik takbir membahana. Rencana Strategis (Renstra) dicanangkan, program kerja digariskan, rancangan kegiatan telah diputuskan, para kader siap melaksanakan seluruh keputusan. Acara berlangsung meriah, diselingi hiburan grup nasyid yang tampil dengan penuh semangat.

Acara selesai, diakhiri dengan doa. Seorang petugas maju ke mimbar, memimpin doa, munajat kepada Allah dengan kerendahan hati dan sepenuh keyakinan akan dikabulkan. Doa pun diumandangkan :

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa dalam ketaatan kepada-Mu, telah bersatu dalam dakwah kepada-Mu, telah berpadu dalam membela syari’at-Mu”.

“Maka kokohkanlah ya Allah, ikatannya, kekalkanlah kasih sayangnya, tunjukilah jalan-jalannya, penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar”.

“Lapangkanlah dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan tawakkal kepada-Mu. Nyalakan hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu, matikanlah kami dalam syahid di jalan-Mu”.

“Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Amin”.

Acara resmi ditutup. Para aktivis berdiri, berjabat tangan, meninggalkan ruangan dengan khidmat. Terdengar kebisingan suara sepeda motor dan mobil yang mesinnya dihidupkan. Sepeninggal mereka, tampak panitia sibuk membereskan ruangan.

Masa cepat bergulir, hingga di era 2010-an.....

Para aktivis dakwah berkumpul, jumlah mereka sangat banyak. Harus menyediakan ruangan yang sangat besar untuk menampung jumlah tersebut. Ruang kantor Yayasan sudah tidak bisa menampung, ruang pertemuan yang sepuluh tahun lalu digunakan, sekarang sudah tampak terlampau kecil. Harus menyewa gedung pertemuan yang memiliki hall besar agar menampung antusias para aktivis dari berbagai daerah untuk datang.

Para aktivis dakwah berkumpul, jumlah mereka sangat banyak. Mereka datang naik pesawat, berasal dari Aceh hingga Papua. Berseragam rapi, semua mengenakan atribut dan jas berlambang partai. Peserta yang datang dari wilayah setempat datang dengan mobil atau taksi. Semua tampak rapi dan bersih.

Ruangan yang besar itu penuh diisi para aktivis dakwah yang datang dari seluruh pelosok wilayah. Dakwah telah tersebar hingga ke seluruh penjuru tanah air. Sebagian telah menempati posisi strategis sebagai pejabat pemerintahan, baik di pusat maupun daerah, baik di eksekutif maupun legislatif. Hadir dengan sepenuh keyakinan dan harapan akan adanya perubahan menuju pencerahan.

Berbagai problem dan persoalan diutarakan. Berbagai ketidakpuasan disampaikan. Banyak kritik dilontarkan. Banyak saran dan masukan diungkapkan. Semua berbicara, mengevaluasi diri, mengaca kelemahan dan kekurangan, memetakan arah tujuan, namun tetap dalam bingkai kecintaan dan kasih sayang. Para aktivis sadar bahwa masih sangat banyak kekurangan dan kelemahan yang harus terus menerus diperbaiki dan dikuatkan. Semua bertekad untuk terus berusaha menyempurnakan.

Sang Qiyadah memberikan taujih dengan sepenuh kehadiran jiwa, “Nabi telah berpesan, bahwa sesungguhnya kalian dimenangkan karena orang-orang lemah di antara kalian. Maka tugas kita adalah selalu memberikan perhatian terhadap masyarakat, terlebih lagi kelompok dhuafa. Termasuk dhuafa di antara kader dakwah. Jangan pernah melupakan kerja para kader yang telah berjuang di pelosok-pelosok daerah. Lantaran kerja merekalah kita diberikan kemenangan oleh Allah”.

Lugas, tuntas. Arahan telah sangat jelas. Acara pun berakhir, ditutup dengan doa. Seorang petugas maju ke mimbar, mengajak semua peserta menghadirkan hati dan jiwa, dengan khusyu’ munajat kepadaNya agar senantiasa diberikan pertolongan dan kekuatan. Doapun dilantunkan :

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa dalam ketaatan kepada-Mu, telah bersatu dalam dakwah kepada-Mu, telah berpadu dalam membela syari’at-Mu”.

“Maka kokohkanlah ya Allah, ikatannya, kekalkanlah kasih sayangnya, tunjukilah jalan-jalannya, penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar”.

“Lapangkanlah dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan tawakkal kepada-Mu. Nyalakan hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu, matikanlah kami dalam syahid di jalan-Mu”.

“Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Amin”.

Ternyata, doa Rabithah telah menghiasi perjalanan panjang kami. Bergerak melintasi zaman, dengan beragam tantangan, dengan aneka persoalan. Para aktivis selalu setia dengan arah tujuan, bergerak pasti menuju ridha Ilahi. Doa Rabithah tidak pernah lupa dimunajatkan, di waktu pagi dan malam hari.

Kesetiaan telah teruji pada garis waktu yang terus bergerak. Lintasan mihwar membawa para aktivis menuju kesadaran, bahwa kejayaan adalah keniscayaan, selama isi Doa Rabithah diamalkan, bukan sekedar diucapkan.....

Kabulkan permohonan kami, Ya Allah....





nDalem Mertosanan, Yogyakarta, 3 Desember 2011

Senin, 12 Desember 2011

Kesejahteraan Penggiat PAUD Harus Diperjuangkan

PKS Jakarta - Persyaratan akreditasi yang diminta untuk memperoleh dana bantuan penyelenggaraan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dinilai sangat memberatkan. Mengingat PAUD selama ini tumbuh dan berkembang atas inisiatif masyarakat, yang kebanyakan adalah ibu rumah tangga yang juga penggiat PKK.

Hal itu terungkap dalam acara reses anggota DPRD DKI Jakarta, Rifkoh Abriani bersama dengan Himpunan PAUD (Himpaudi) kecamatan Pulo Gadung.

Salah satu perwakilan dari pendidik PAUD menilai, seharusnya untuk menggulirkan bantuan, pemerintah tidak meminta persyaratan yang memberatkan. “Apa bedanya penggiat PAUD dengan jumantik dan kader Posyandu yang mendapat perhatian kesejahteraan dari pemerintah”, ungkap mereka.

Rifkoh sendiri mengakui, PAUD sebagai salah satu program unggulan Pemda DKI Jakarta, justru belum mendapatkan dukungan berupa anggaran yang luas bagi penggiatnya. Selama ini PAUD masih bernaung dalam program penguatan kelurahan, karenanya masih tergantung dengan alokasi anggaran dari kelurahan. Namun dirinya menjamin, akan terus memperjuangkan pemberian bantuan operasional juga bantuan kesejahteraan bagi penyelenggaraan PAUD di masyarakat.

“Investasi kita di PAUD memang tidak bisa dinikmati dalam setahun dua tahun, karena mendidik anak-anak usia dini bukanlah perkara yang bisa dipetik dalam jangka waktu yang dekat”, ujar Rifkoh yang merupakan anggota Komisi E. Ini adalah salah satu usaha kita untuk meningkatkan Indeks
Pembangunan Manusia di Jakarta, untuk itu, tidak bisa tidak, alokasi anggaran untuk penyelenggaraan PAUD di masyarakat harus signifikan.

Selebihnya, para pendidik PAUD di Pulo Gadung ini juga meminta agar para wakil rakyat juga memikirkan peningkatan kualitas pengajar PAUD. “Tidak mungkin kita berharap para lulusan S1 dan S2 terjun menjadi pengajar di PAUD”, ujar mereka. Karenanya para pengajar yang ada sekarang, yang sebagian besar adalah lulusan SMA dan SMP, harus banyak diberikan pelatihan singkat dari tenaga profesional sebagai bekalan mendidik anak-anak usia dini. Pelatihan dari psikolog, pendidik, bahkan tenaga medis sekalipun menjadi hal yang sangat berarti bagi penggiat PAUD. Karena hal tersebut dapat membantu mereka menyelami lebih dalam dunia anak-anak, agar nilai-nilai dan tradisi kebaikan dapat ditanam pada jiwa-jiwa anak didik sedini mungkin

Perempuan Tolak Korupsi

Salah satu yang paling berperan untuk menghindarkan tindakan korupsi adalah perempuan/istri/ibu (karena berlaku juga kebalikannya)
1. Istri hendaknya curiga jika suami membawa pulang uang lebih besar dari biasanya
2. Jangan segan/takut bertanya dari mana uang tersebut berasal untuk keselamatan keluarga
3. Jangan pernah meminta/menuntut sesuatu di luar batas kemampuan suami
4. Selalu melepas kepergian suami bekerja/beraktivitas dengan seuntai pesan: "Pak, jangan korupsi"
5. Lanjutkan pesannya: "Istri dan anak2mu sanggup hidup dari gaji yang sah bapak dapatkan"
6. Tidak usah/perlu tergiur teman arisan/pengajian yang gonta-ganti tas dan perhiasan
7. Yang terpenting adalah rasa cukup/qonaah menerima apa adanya yang kecil tapi halal dan penuh keberkahan
8. Oleh karena itu, nggak perlu tas yang branded entah itu Hermes dkk, jika itu didapat dari uang hasil korupsi
9. Setiap kali suami pulang sambut dengan kalimat: "Bapak pulang dengan selamat saja kami sudah sangat bersyukur"
10. Ibu hendaknya membuat skala prioritas dalam mengatur anggaran, yang penting tentu yang primer, anak bisa makan dan sekolah
11. Penampilan sederhana dan bersahaja tapi tetap pantas adalah pilihan tepat yang harus dilakukan kaum perempuan
12. Jika semua perempuan cinta kesederhanaan, tentu produk lokal akan naik omzetnya
13. Cinta produk lokal bukan hanya wacana, namun akan menjadi fenomena
14. Sehari-hari cukup gunakan tas lokal dari mendong, eceng gondok, agel, rotan, pandan yang banyak terserak
15. Selain tas, produk kulit kita juga banyak, sepatu, jaket yang tidak kalah bagus kualitasnya untuk dipakai
16. Ibu dapat menanamkan nilai dan semangat anti korupsi kepada anak-anak dengan cara berpesan, "Nak, jangan menyontek ya saat ulangan/ujian"
17. Selipkan pesan stiap kali mereka sekolah/aktivitas, "Ingat, meski ibu dan bapak jauh dari kalian, Allah selalu mengawasi"
18. Semangati mereka dengan mengatakan, "Apapun hasilnya, Ibu bangga kepada kalian karena ini adalah hasil kerja keras kalian sendiri"
19. Ceritakan kisah-kisah kejujuran dan kepahlawanan sehingga anak terinspirasi untuk mencontohnya
20. Jangan kaget jika suatu hari ia bertanya ketika diberi uang saku, "Ibu/bapak, apa ini uang hasil korupsi?"
21. Jika seperti itu (anak kritis bertanya), jangan dimarahi, justru bersyukur anak telah menjadi pengawas bagi orang tuanya
21. Berhati-hati dengan hadiah, meski kita suka, boleh jadi itu gratifikasi.
22. Jika berpergian, ada yang membayari belanjaan kita, waspada, khawatir itu juga jerat korupsi.
23. Kalau ada yang minta nomor rekening kita, jangan buru-buru diberikan, boleh jadi ada transferan yang bukan hak kita.
24. Hati-hati dengan politik dapur, urusan tidak tembus dengan suami, biasanya ada yang mencoba masuk lewat istri
25. Akhirnya, perempuan harus bilang harga diri, keselamatan hidup, dan masa depan anak-anak ada di atas jabatan
26. Jangan bukakan pintu untuk suami yang pulang bawa uang hasil KKN, memalak, menginjak, mengintimidasi, dan memanipulasi
27. Setiap kali berangkat tidur, bisikkan di telinga suami, "Jangan buat masa depan anak-anak kita suram karena tindakan korupsi bapaknya"
28. Untuk yang suaminya pejabat jangan lupa pesan, "Hati-hati saat tandatangani surat(apapun), boleh jadi itu pintu masuk korupsi"

#PerempuanTolakKorupsi (follow @netty_heryawan on twitter & like pages http://www.facebook.com/netty.prasetiyani.heryawan & klik www.nettyheryawan.com)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons | Re-Design by PKS Piyungan